Atensi Fokus Pasca Erupsi Semeru, PERANGKAT RUSAK TAK BISA BERI PERINGATAN DINI

Atensi Fokus Pasca Erupsi Semeru, PERANGKAT RUSAK TAK BISA BERI PERINGATAN DINI

jareku.id

TIDAK berfungsinya alat pantau Gunung Semeru menyebabkan tidak ada peringatan dini untuk masyarakat. Akibatnya musibah erupsi yang khas itu menelan belasan nyawa. Serta hampir 3 ribu rumah tertimbun material vulkanik dan 13 fasum rusak total.

Masalah perangkat pantau Gunung Semeru yang rusak itu disampaikan petugas kepada Mensos Tri Rismaharini “Penjelasan dari petugas mengalamai kerusakan, sempat ditegur sama Mensos,” ujar Dr. Sujatmiko, S.H, M.Hum, pada jareku.id , Senin (6 November 2021).

Sujatmiko yang Ketua DPRD Lumajang dan Mantan anggota DPRD 3 periode itu tidak menjelaskan lebih lanjut. Yang jelas perhatian ormas, partai relawan cukup banyak berlebih. Golkar Lumajang sendiri sejak Sabtu malam sudah langsung surve yg no kemudian mendirikan posko. Memberikan 6.000 paket bantuan. Serta merencankan langkah langkah pasca erupsi.

Benar. Semua perhatian tercurah pada bencana nasional ini. Presiden Joko Widodo perintahkan BNPB untuk terjun langsung. Gubernur Jatim kemarin langsung ngepos ke Pemkab Lumajang. Demikian pula Mensos Tri Risma gregetan mendengar langsung petugas soal perangkat pantau Gunung Semeru yang rusak.

Bupati Jember Haji Hendy Siswanto pun yang akrab dengan Bupatk Lumajang Toriqulhaq langsung berkordinasi langsung. “Saya telpon langung dan suara pak bupati Toriq bergetar. Lalu terputus,” ungkap Haji Hendy.

Pasca erupsi Semeru. Ratusan rumah terkubur lumpur, material vulkanik. (Foto: Antara dan Kontan)

Seperti diketahui, erupsi gunung Semeru yang khas dengan APG (awan panas guguran) itu terjadi Sabtu sore sekitar jam 16.00. Masyarakat juga di kaki gunung terhenyak kaget. Karena tidak peringatan dini sebelumnya. Akhir mereka jadi korban.

Sebanyak 2.970 rumah warga Pronojiwo dan Candiouro terdampak erupsi Gunung Semeru berupa awan panas guguran. Terkubur material vulkanik. Ribuan warga mengungsi di sejumlah sekolah dan kantor desa.

Kabid Kesiapsiagaan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana BPBD Lumajang, Wawan Hadi Siswoyo pad kantor berita ANTARA Minggu (5 November 2021) menjelaskan, selain rumah, juga ada 13 fasilitas umum yang rusak.

Menurutnya, sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 69 orang mengalami luka-luka mendapat perawatan di beberapa puskesmas dan rumah sakit di Lumajang.

Ia mengatakan dampak materiil akibat awan panas guguran Gunung Semeru, yakni jembatan Gladak Perak jalur utama arah Lumajang – Malang lewat selatan terputus total sehingga warga di dua kecamatan yakni Kecamatan Pronojiwo dan Tempursari terisolasi, sehingga tidak ada akses jalan lagi menuju Kota Lumajang.

“Akses jalan menuju lokasi pengungsi masih tertutup hujan yang disertai abu vulkanik Gunung Semeru yang masih cukup tebal,” katanya.

Ribuan warga di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, dan Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, mengungsi ke masjid, sekolah dan kantor desa, serta di titik-titik yang dianggap aman. /// Ghani

Uncategorized