Bunda Kasih Cegah Perkawinan Dini dan Stop Janda Baru…!

Bunda Kasih Cegah Perkawinan Dini dan Stop Janda Baru…!

JEMBER – jareku.id Banyaknya perkawinan usia dini di era pandemi ini akan disusul dengan munculnya janda2 baru. Info faktual sering terjadi. Hal ini yang menyebabkan momen nikah dini dan perceraian di Jember semakin melejit di Jawa Timur.

Fakta warga Jember itulah yang membuat Bunda Kasih atau Dra. Hj. Kasih Fajarini Siswanto selaku Ketua Tim Penggerak Pengembangan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) yg juga istri Bupati Jember, akan mendata ulang anak-anak yang dimasukkan dalam data Stunting. Ini didasari beberapa kali ia melihat di lapangan ada anak yang dimasukkan stunting tapi pada faktanya tidak.

Bunda Kasih Fajarini dalam acara sosialisasi itu mengatakan, “Saya sendiri turun, saya cek sendiri di Silo, Jenggawah, dan Sumberbaru ternyata bukan stunting”.

Sejak ia menjadi Ketua Tim Penggerk PKK Kabupaten Jember. Bunda Kasih, sapaan akrabnya tidak berpangku tangan tetapi sering berkunjung ke wilayah kecamatan-kecamatan. Dari hasil temuannya TP PKK mengadakan acara Implementasi Pendewasaan Usia Perkawinan dan Pencegahan Perkawinan Dini yang diselenggarakan di Pendopo Kecamatan Kaliwates, Selasa (15 Juni 2021).

Diharapkan dengan adanya kegiatan itu tercipta rumah tangga sehat sehingga angka stunting bisa ditekan.

Masa Pandemi, Perkawinan Usia Dini Di Jember Meningkat, Rankin Pertama Se Jatim. Pemkab Jember membembentuk Tim Sosialisasi Risiko Perkawinan Usia Dini. Sosialisasi ini dilakukan di setiap kecamatan. “Ini memang bagian dari tupoksi kami untuk melakukan tugas sosialisasi,” ungkap Didik Kurniawan, Ketua KUA Kec. Silo Jember saat melakukan tugas sebagai pembicara di Pendopo Kec. Kaliwates Jember.

Menurut Didik, terkait keluarga berkualitas, pasangan pengantin siap secara fisik dan secara psikologis.
Perkawinan pada usia dini maka secara psikologis belum kuat.

Hal itu yang menyebabkan perceraian usia muda juga banyak dan sering terjadi. Masalah lain perkawinan usia muda, dari kesehatan terkait reproduksi yang belum sempurna.

Itulah yang menyebabkan faktor kematian ibu dan bayi termasuk Jember paling tinggi se Jatim. Dan hal itu menjadi penting untuk perhatian semua pihak. Itulah salah satu tupoksi KUA untuk mensosialisasikan kepada masyarakat.
Adakah faktor lain yang menyebabkan orang tua menikahkan anaknya BB dibawah umur?

Menurut Didik, problemnya hampir disemua daerah juga nyaris sama, yakni sering dipicu faktor budaya, namun juga terkait dengan faktor ekonomi, dan juga faktor pendidikan.

Misalnya, pihak orang tua tidak menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan lanjutan sampa pendidikan tinggi. Mereka berfikir dari pada berat biaya pendidikan, maka akhirnya menikahkan anak yang belum cukup umur. Maka terjadilah menikah dibawah umur atau usia dini.

Bahkan situasi pandemi seperti sekarang ini juga menjadi pendorong munculnya pernikahan dini. Pada saat situasi sekarang ini banyak anak gadis yang punya aktvitas terbatas, banyak berdiam di rumah, banyak main HP, tidak banyak kegiatan, semua ini bisa
mendorong menikah usia dini. “Terutama bagi masyakat yang ada di pelosok atau daerah isolir akibat jarang bergaul dan bersosialisasi”, jelas Didik.

Di bagian lain Camat Kaliwates, Bambang Saputro, SH, M.Si, mengapresiasi sekali kegiatan tersebut. “Saya sebagai tuan rumah merasa senang dan bangga sebab diikuti oleh tujuh kecamatan,” katanya. Camat Bambang berharap, bisa efektif sosialisasi tersebut agar bisa menekan angka perceraian serta perkawinan pada usia dini. /// Ghani

Uncategorized