Demo Theatrikal Mahasiswa, KASUS TAMBAK dan TAMBANG Akan Ditertibkan Bupati Jember

Demo Theatrikal Mahasiswa, KASUS TAMBAK dan TAMBANG Akan Ditertibkan Bupati Jember

jareku.id

TAMBAK dan tambang di Jember jadi persoalan menahun. Kasus eksplorasi tambang emas muncul lebih seperempat silam di kawasan hutan Silo. Disusul kemudian di Wuluhan serta tambang pasir besi dan tambang lainnya.

Sementara kawasan pinggir pantai sepanjang pesisir pantai selatan sepuluh tahun terakhir ini jadi incaran investor tambak udang. “Akibat ketidaktegasan penentu kebijakan, akhirnya kawasan pinggir pantai Jember selatan dimanfaatkan investor tambak udang. “Saya tidak tahu berijin atau tidak,” ujar Mohammad, Kamis (30 September 2021).

Mohammad atau akrab dipanggil Cak Mat adalah salah satu tokoh warga Desa Puger Wetan yang sering terlibat dalam banyak masalah di kalangan nelayan dan masyarakat Kec.Puger.

Bupati Hendy Siswanto cukup tegas terhadap persoalan tambak ini. Sempat sidak beberapa hari lalu ke lokasi Tambak si Desa Kepanjen dan Mayangan Kec. Gumukmas. Ditemukan 18 usaha tambak tak berijin, termasuk mendirikan bangunan pendukung. Meski usaha ilegal tersebut berada pada lokasi tanah negara.

Juga ditemukan jembatan bambu yang dibangun oleh Kelompok Sadar Wisata. Sehingga terjadi adu mulut antara Bupati Haji Hendy dg Pokdarwis. “Iki Bupati karo Wabup mrene arep Noto kanggo kesejahteraan bersama. Rakyat Jember iku 2,5‚Ķopo tak serahno sampeyan,” kata Haji Hendy. Sambil memerintahkan untuk membongkar jembatan bambu.

Berulangkali masalah tambak dan tambang di Jember ini jadi obyek kritikan terhadap pengambil kebijakan. Eksekutif maupun legislatif. Rabu kemarin (29 September) kurang lebih 40 mahasiswa aktifis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember berunjuk rasa. Gelar aksi teatrikal di depan DPRD Jember. Sikap ekspresif itu sebagai bentuk penolakan terhadap adanya pertambangan dan tambak di wilayah Jember.

Sebagaimana dilansir detikNews, mereka menilai dan bahwa keberadaan tambang dan tambak tersebur merugikan masyarakat.

Selain penyampaian orasi, mahasiswa juga melakukan teaterikal dengan adegan orang-orang yang melakukan penindasan terhadap petani dan nelayan. “Kebetulan kita masih dalam rangka merayakan Hari Tani Nasional 2021. Aksi kami dari 40 mahasiswa ini, menolak adanya pertambangan dan tambak di Jember. Khususnya di wilayah Desa Paseban,” kata Korlap aksi Dyno Suryandon.

“Khususnya di Paseban yang dilakukan oleh investor yang nantinya akan dilakukan praktik pertambangan pasir besi,” ujarnya. /// Ghani

Uncategorized