Jaga Marwah Jurnalis, AJI, PWJ dan JJC Dukung Polisi Tindak Tegas Oknum Wartawan Pemeras

Jaga Marwah Jurnalis, AJI, PWJ dan JJC Dukung Polisi Tindak Tegas Oknum Wartawan Pemeras

JEMBER – jareku.id Tiga organisasi profesi wartawan Jember, AJI, PWJ dan grup JJC prihatin terhadap ulah 2 orang oknum jurnalis yg diduga pemeras. “Kami prihatin pada kedua oknum itu. Kok masih ada prilaku memalukan seperti itu,” papar pendiri grup wartawan senior JJC (Jember Journalist Comunity), Miftahurrahman, S.E alias Memet, direktur jempolindo.id.

Sementara Kustiono Musri dan Rio masing2 Ketua dan Sekretaris PWJ (Perserikatan Wartawan Jember) juga Ira Rachmawati, Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jember mengemas perbuatan 2 oknum yg mencoreng marwah profesi wartawan. Sebab itu ketiga lembaga profesi tersebut mendukung penuh tindakan tegas penegak hukum Polres Jember.

Rilis PWJ:

Bahwa tidakan pemerasan kepada siapapun yang dilakukan oleh siapapun warga negara Indonesia adalah sebuah perbuatan KRIMINAL yang telah diatur dalam KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara.

Terlebih tindakan kriminal tersebut dilakukan oleh oknum yang berprofesi sebagai wartawan, maka selain mencoreng nama baik pelaku itu sendiri, perbuatan tersebut jelas telah mencoreng marwah profesi mulia banyak insan pers dan berbagai lembaga wartawan yang ada.

Terhadap perbuatan dua oknum wartawan yang melakukan dugaan Tindak Pidana PEMERASAN tersebut, kami Perserikatan Wartawan Jember (PWJ) dengan ini menyatakan sikap sbb ;

1. Mengecam keras tindakan kriminal yang dilakukan dua oknum wartawan tersebut karena bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku khususnya Undang-undang Pers.

2. Mendesak pihak Polres Jember menindak tegas dan mengusut tuntas kasus tersebut.

3. Menghimbau kepada kelembagaan wartawan baik lokal dan nasional serta perusahaan pers untuk lebih serius lagi dalam melakukan pembinaan wartawannya agar tidak mencederai profesi wartawan.

4. Mengimbau kepada semua pihak agar berhati-hati terhadap siapapun oknum wartawan yang melakukan pemerasan, dan dimohon untuk berani melawan/menolak semua niat jahat mereka atau paling tidak agar melaporkan kejadian tersebut kepada Perserikatan Wartawan Jember (PWJ).

5. PWJ berkomitmen dalam membangun integritas dan dedikasi wartawan sesuai dengan Undang-undang Pokok Pers.

AJI Minta Usut Tuntas

Menurut Ketua AJI Jember, Ira Rachmawati, unsur pemerasan sangat bertolak belakang dengan kinerja profesi wartawan.

Karena itu, desak polisi untuk mengusut tuntas kasus ini. Termasuk kemungkinan adanya korban atau pelaku lain dengan modus yang sama.

“Setiap jurnalis akan selalu terikat dengan kode etik jurnalistik (KEJ) yang cukup ketat. Sehingga cara kerja jurnalis sangat jauh berbeda dengan pihak-pihak yang melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan profesi wartawan,” ujar Ira Rachmawati, Rabu (16/06/2021).

Dalam KEJ pasal 1 ditegaskan, bahwa wartawan tidak boleh beriktikad buruk dalam melakukan peliputan. Artinya, wartawan tidak boleh memiliki niat secara sengaja untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

“Selain itu, peliputan juga tidak boleh masuk pada ranah privasi seseorang. Jurnalis yang profesional digaji oleh medianya, bukan dengan cara meminta kepada narasumber,” imbuh Ira.

Selain itu, dalam pasal 2 KEJ juga ditegaskan bahwa wartawan harus menempuh cara yang profesional dalam melakukan peliputan.

“Sehingga dalam melakukan wawancara harus secara patut, tidak dengan mengancam. Tidak bisa hanya dengan berbekal kartu pers yang bisa di cetak di mana saja, lantas merasa bisa melakukan perbuatan semena-mena seperti pengancaman,” katanya.

AJI Jember juga menilai, pihak yang melakukan pemerasan tidak bisa berlindung dengan menggunakan dalih kebebasan pers maupun UU Pers.

“Kami menilai, ini masuk pidana murni sebagaimana yang diatur dalam KUHP,” tutur Ira.

Melalui kasus ini, AJI Jember juga mengajak semua pihak untuk berani bersikap tegas menolak pemerasan atau permintaan tertentu dengan ancaman pemberitaan, oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan jurnalis.

“Selama ini kami kerap menerima keluhan yang disampaikan secara tidak langsung (bukan oleh korban langsung) tentang ulah pihak yang mengatasnamakan wartawan dan melakukan tindakan yang jauh dari profesi jurnalis profesional. Tidak semua berani melawan atau melapor. Sehingga terjadi pembiaran yang pada akhirnya merusak citra jurnalis di masyarakat umum,” tegas Ira.

AJI Jember juga siap menerima keluhan masyarakat yang merasa bimbang menghadapi pihak tertentu yang diduga melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan profesi wartawan.

Wilayah kerja AJI Jember meliputi Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.

“Pengaduan bisa dilakukan baik kepada pengurus AJI Jember maupun melalui kanal media sosial instagram (@ajijember) yang dimiliki oleh AJI Jember,” pungkas Ira. /// Ghani

Uncategorized