KEBAHAGIAAN YANG DIRAMPAS DIHARI RAYA, HARI NAN FITRI UNTUK SALING BERSILATURAHMI

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Sudah tidak bisa menyejahterakan rakyat, kerjanya menumpuk utang, protokol pandemi dilanggar sendiri, KPK dilumpuhkan, Ulama di kriminalisasi, sekarang rakyat mau bahagia setahun sekali mudik bersama keluarga saja dipersulit. Bahkan, hingga mengerahkan alat negara, seolah ingin memberi pesan : NEGARA TIDAK BOLEH KALAH DENGAN PEMUDIK.

Padahal ? Negara keok melawan OPM. Negara kalah telak dengan koruptor BLBI. Bahkan, Negara dibuat tidak berdaya hanya oleh seorang Harun Masiku.

Pemudik dipersekusi layaknya penjahat kelas kakap, saat yang sama, penerbangan Jakarta – Wuhan dibuka, orang China berstatus TKA terus berdatangan. Lalu rakyat diminta untuk taat tanpa protes ? ya tidak bisa, kecuali rakyat sudah tak lagi memiliki otak.

Melarang mudik itu boleh, kalau yang melarang itu yang ngongkosi. Ini ongkos sendiri, pulang ke keluarga sendiri, kok dihalang-halangi ?

Alasan Pandemi ? omong kosong ! Buktinya, tempat wisata dibuka dan digalakkan, mal dan pusat belanja open house terus, pasar tanah Abang membludak, di pasar umum biasa terjadi perkumpulan orang. Presiden juga bebas bikin agenda kumpul-kumpul, baik di Bogor maupun di NTT.

Yang paling menjengkelkan, kenapa syi’ar Islam dibungkam ? takbir keliling dilarang, sholat Id tak boleh di masjid ? tak boleh mudik yang itu bagian dari tradisi Islam ? waktu Natal dan Tahun Baru, tak ada larangan seperti ini.

Bulan Ramadhan, KPK dilumpuhkan. Idul Fitri, syi’ar Islam dilumpuhkan sementara syi’ar pariwisata dan pusat belanja, terus digalakkan. Syi’ar TKA China juga disemarakkan, dengan dibukanya rute penerbangan Jakarta – Wuhan.

Padahal ? virus Corona itu dari Wuhan, bukan dari Masjid. Yang membawa virus itu orang China yang ke Indonesia atau orang Indonesia yang pergi dari dan ke China, bukan pribumi yang mudik. penyebaran virus itu lebih potensial dari TKA China, bukan dari acara sholat idul Fitri.

Tapi penguasa di negeri ini lebai, sok menjaga nyawa rakyat tapi tidak konsisten dengan kebijakan. Kepala daerah juga ada yang ikut cari muka, ingin dianggap melindungi warga dengan melarang pelaksanaan sholat idul Fitri di daerahnya.

Padahal ? penderitaan rakyat yang sesungguhnya, tidak pernah diurusi serius oleh penguasa, baik pusat maupun daerah. Semua, lebih fokus mencari pamrih citra, ketimbang pengabdian kepada rakyat.

Pingin bahagia setahun sekali saja diganggu penguasa. Mereka, melanggar aturan suka-suka…

Opini