Sidang Perdana, Oknum Dosen UNEJ Didakwa Pencabulan Anak

Sidang Perdana, Oknum Dosen UNEJ Didakwa Pencabulan Anak

JEMBER – jareku.id Kasus dugaan pencabulan anak oleh RH, oknum dosen UNEJ mulai menjalani sidang perdana. RH menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jember pada Kamis (22/7).

PN Jember menggelar sidang secara tertutup dan menyiarkannya secara daring.

“Benar, kita gelar secara tertutup karena ini kan kasus perlindungan anak dan juga terkait kesusilaan,” papar Adik Sri Sumiarsih, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Jember saat dikonfirmasi merdeka.com.

Setelah sidang ekespsi, RH menjalani sidang dari dalam Lapas Kelas II A Jember dan menyerahkan nota keberatan.

Selanjutnya, PN Jember akan melanjutkan sidang pada Kamis (29/7) mendatang dengan agenda pembacaan eksepsi dari pengacara terdakwa.

Adik menjelaskan bahwa RH dalam keadaan yang baik. “Terdakwa RH dalam sidang nampak sehat, baik secara fisik maupun psikis,” ujarnya.

Sebelumnya, dugaan sementara RH melakukan pelecehan dengan memegang bagian tubuh tertentu terhadap korban.

Kasus tersebut menjadi sorotan dari banyak pihak selama beberapa minggu. Sebab, terduga korban masih remaja dan merupakan keponakan RH.

“Sehingga berakibat korban mengalami stres tingkat sedang yang dibuktikan dengan surat keterangan dari psikiater (dokter ahli jiwa),” ujar Adik

Selama beberapa tahun, RH mengasuh korban di rumahnya. Oleh sebab itu, pihak pelapor menjerat RH dengan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Kita menggunakan pasal pencabulan terhadap anak yang dilakukan oleh Wali,” tutur Adik.

Karena korban masih kerabat dan anak asuhnya, maka ancaman hukuman terhadap RH bisa bertambah 1/3 dari ancaman hukuman yang diterapkan.

Sementara itu, ahli dari RSD dr Soebandi melakukan pemeriksaan psikiatri terhadap korban. Pemeriksaan tersebut berguna sebagai alat bukti persidangan.

RH Merupakan Dosen yang Bagus Akademisnya

RH merupakan salah satu dosen yang cukup bersinar dalam karir akademis. Ia mendapatkan gelar PhD dari Charles Darwin University, Australia.

Selain itu, lingkungan kampus UNEJ mengenal RH sebagai pakar kebijakan publik.

Akibat kasus ini, pihak kampus mencopot RH dari jabatannya sebagai koordinator program doktoral bidang ilmu sosial. Pihak kampus juga melarang RH membimbing maupun menguji tugas akhir.

Sebelumnya, Maporlres Jember menahan RH pada 5 Mei 2021 lalu setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

Saat itu, polisi menggunakan Pasal 82 ayat (2) Jo Pasal 76E UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman minimal 5 Tahun penjara dan maksimal 15 Tahun penjara. // Fabby, Ghani

Baca juga : 19 Daerah di Jatim Termasuk Jember Masuk Zona Merah

Headline