Ustadz Sukarno: Tidak Ada Pakar Bisa Prediksi Kapan Pendemi Berakhir, Ayo Patuhi Lockdown ke-2 Jawa – Bali

Ustadz Sukarno: Tidak Ada Pakar Bisa Prediksi Kapan Pendemi Berakhir, Ayo Patuhi Lockdown ke-2 Jawa – Bali

JEMBER – jareku.id: Tidak ada pakar virus yang bisa memprediksi kapan pandemi virus Corona ini berakhir. Karena itu kebijakan Presiden Jokowi untuk melockdown yang berlaku mulai besok Sabtu 3-20 Juli 2021 harus kita patuhi bersama sebagai langkah preventif.

Demikian ajakan tegas Ustadz Dr. KH. Sukarno, dosen senior UIN KH.Ahmad Shidiq Jember saat di mimbar Khotib Masjid Al Bayan Perum GMI, Ahad (2 Juli 2021). Diyakinkan pula soal istilah “new normal” dari Presiden RI Joko Widodo pada Agustus 2020 lalu adalah bagian dari prakira jika upaya keberhasilan mengatasi Covid-19. Ternyata virus Corona terus mewabah. Bahkan sekarang ini sebarannya kian meningkat. Banyak yang terpapar Covid-19. Memprihatinkan sekali.

Menurut Ustadz Sukarno, di tengah masyarakat masih pro kontra terhadap pandemi Covid 19 ini. Ada yang percaya ada yang tidak. “Silakan tidak percaya itu hak anda. Tapi pandemi Corona ini ada. Sebab itu dalam kaidah fikif kita berikhtiar maksimal untuk menghindari virus Corona tersebut,” tuturnya.

Diungkapkan pula teman yuniornya yang pakar mikrobiologi yaitu
Prof. Dr. Sasmito Djati, MSc (Warek IV Unibra Malang) sempat komunikasi langsung dan mengatakan tidak pakar virus mampu memprediksi berakhirnya pandemi Covid-19 ini. Dijabarkan pula tafsir Al Quran serta penjelasan Surat Al Hasy’r yang mengutamakan masa depan manusia dan kesehatan badan agar terhindar dari serangan virus Corona yang mematikan tersebut.

SITUASI DARURAT

Sebagaimana diberitakan hampir seluruh media online nasioanal dan lokal. Rencana “lock down ke.2) diberlakukan selama 2 pekan mulai Sabtu besok. Presiden Jokowi telah resmi menetapkan PPKM Darurat di Jawa dan Bali per 3 Juli. Aturan berlaku sampai 2 minggu setelahnya.
Ada beberapa kebijakan penting yang diambil Presiden Jokowi terkait hal tersebut. Semata-mata demi memutus penularan corona.
Menurut informasi yang dihimpun laman kumparan.com aturan lengkap dalam PPKM Darurat:
I. Periode Penerapan PPKM Darurat: 3-20 Juli 2021 dengan target penurunan penambahan kasus konfirmasi harian <10ribu/hari
II. Cakupan Area: 45 Kabupaten/Kota dengan Nilai Assesment 4 dan 76 Kabupaten/Kota dengan Nilai Assesment 3 di Pulau Jawa dan Bali.
III. Cakupan Pengetatan Aktivitas:

  1. 100% Work from Home untuk sektor non essential
  2. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online/daring
  3. Untuk sektor essential diberlakukan 50% maksimum staf Work from Office (WFO) dengan protokol kesehatan, dan untuk sektor kritikal diperbolehkan 100% maksimum staf work from office (WFO) dengan protokol kesehatan.

a. Cakupan sektor essential adalah keuangan dan perbankan, pasar modal, sistem pembayaran, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan non penanganan karantina, serta industri orientasi ekspor.
b. Cakupan sektor kritikal adalah energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan, minuman dan penunjangnya, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana, proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (listrik dan air), serta industri pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.
c. Untuk supermarket, pasar tradisional, toko kelontong, dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00Hb di waktu setempat dengan kapasitas pengunjung 50% (lima puluh persen);

  1. Kegiatan pada pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan ditutup
  2. Restoran dan Rumah Makan hanya menerima delivery/take away
  3. Pelaksanaan kegiatan konstruksi (tempat konstruksi dan lokasi proyek) beroperasi 100% (seratus persen) dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat;
  4. Tempat ibadah (Masjid, Mushola, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah) ditutup sementara
  5. Fasilitas umum (area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya) ditutup sementara;
  6. Kegiatan seni/budaya, olahraga dan sosial kemasyarakatan (lokasi seni, budaya, sarana olahraga, dan kegiatan sosial yang dapat menimbulkan keramaian dan kerumunan) ditutup sementara;
  7. Transportasi umum (kendaraan umum, angkutan massal, taksi (konvensional dan online) dan kendaraan sewa/rental) diberlakukan dengan pengaturan kapasitas maksimal 70% (tujuh puluh persen) dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat;
  8. Resepsi pernikahan dihadiri maksimal 30 (30 puluh) orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dan tidak diperkenankan makan di tempat resepsi. Makanan tetap dapat disediakan dengan wadah tertutup untuk dibawa pulang. Hb di
  9. Pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi jarak jauh (pesawat, bus dan kereta api) harus menunjukkan kartu vaksin (minimal vaksin dosis I) dan PCR H-2 untuk pesawat serta Antigen (H-1) untuk moda transportasi jarak jauh lainnya.
  10. Satpol PP Pemerintah Daerah, TNI, Polri agar melakukan pengawasan yang ketat terhadap pemberlakuan pengetatan aktivitas masyarakat di atas terutama pada poin 3.
  11. Penguatan 3T (Testing, Tracing, Treatment) perlu terus diterapkan:
    a. Testing perlu terus ditingkatkan mencapai minimal 1/1000 penduduk / minggu. Testing perlu terus ditingkatkan sampai positivity rate <5%. Testing perlu terus ditingkatkan untuk suspek, yaitu mereka yang bergejala, dan juga pada kontak erat. b. Tracing perlu dilakukan sampai mencapai >15 kontak erat per kasus konfirmasi. Karantina perlu dilakukan pada yang diidentifikasi sebagai kontak erat. Setelah diidentifikasi kontak erat harus segera diperiksa (entry-test) dan karantina perlu dijalankan. Jika hasil pemeriksaan positif maka perlu dilakukan isolasi. Jika hasil pemeriksaan negatif maka perlu dilanjutkan karantina. Pada hari ke-5 karantina, perlu dilakukan pemeriksaan kembali (exit-test) untuk melihat apakah virus terdeteksi setelah/selama masa inkubasi. Jika negatif, maka pasien dianggap selesai karantina.

c. Treatment perlu dilakukan dengan komprehensif sesuai dengan berat gejala. Hanya pasien bergejala sedang, berat, dan kritis yang perlu dirawat di rumah sakit. Isolasi perlu dilakukan dengan ketat untuk mencegah penularan.

  1. Pencapaian target vaksinasi sebesar 70% dari total populasi pada kota/kabupaten prioritas paling lambat bulan Agustus 2021.

JEMBER PARAH

Kabupaten Jember pun semakin parah. Beberapa wilayah kecamatan kota masuk zona merah. Bupati Hendy dan Wabup Gus Firjaun tak bosan bisanya menghimbau satgas dan warga untuk terus memperketat pelaksanaan protokol kesehatan 5M.

Bupati Jember Haji Hendy memang sangat antusias dalam Maslah pandemi ini. Bukan karena ada alokasi anggaran Covid rezim sebelumnya yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Melainkan karena adik kandung bupati yg pernah meninggal lantaran terpapar Covid beberapa waktu silam.

Bupati Hendy juga memperketat hampir di semua kawasan berpotensi kerumunan massa. Juga memberlakukan jam malam untuk menghindari predikat zona hijau.

Sebagai sampel hari ini Jumat (2 Juli) di perumahan GMI ada tambahan 30 Orang yang terpapar Covid-19. Kelurahan Mangli tergolong kawasan terparah./// Ghani, Fabby

Redaksi Sepekan